Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia
Jumat, 19 Mei 2017
Semantik
Bahasa merupakan suatu sistem lambang
bunyi yang bersifat arbiter. Maksudnya,
tidak ada hubungan wajib antara lambing berwujud kata atau laksem dengan
benda atau konsep yang ditandai. Misalnya kita tidak tidak dapat menjelaskan
kenapa benda yang biasa dipakai menulis yang terbuat dari kayu dinamakan pensil dan bukan sinpel atau pelsin .
2. JENIS-JENIS SEMANTIK
1. Semantik Leksikal : Makna leksikel
dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksem atau bersifat kata.
Menyelidiki makna yang sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan hasil
observasi panca indera, atau maknanya yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan
kita. Kajian makna lebih memusatkan pada peran unsur bahasa atau kata dalam
kaitannya dengan kata lain dalam suatu
Bahasa yang di sebut Semantik Leksikel. Berdasarkan maknanya,
dapat diartikan makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan
dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat).
makanan : segala
sesuatu yang boleh dimakan
2.
Semantik
Gramatikal : merupakan kajian makna dalam semantik yang khusus mengkaji makna dalam satuan kalimat. Tataran
tatabahasa memiliki morfologi.
Satuan-satuan morfologi yaitu morfem yang jelas ada maknanya. Oleh
karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu disebut
semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal
tersebut. Makna gramatikal (struktur) dalam semantik mempunyai
makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan).
3.
Bagi
Guru :
Manfaat Teoritis, akan menolongnya
memahami dengan baik Bahasa yang akan di ajarkannya itu. Manfaat Praktis, akan
memudahkannya dalam mengajar murid-muridnya.
Senin, 15 Mei 2017
Teori Sastra
Teori Sastra, Kritik Sastra dan Sejarah
Sastra
Teori sastra
Dalam arti sempit adalah studi sistematis mengenai
dan metode untuk menganalisis sastra. Akan tetapi, kata "teori" telah
menjadi istilah umum untuk berbagai pendekatan ilmiah untuk membaca teks. Teori
sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip,hukum,
kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yangbukan sastra.
Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistemilmiah atau pengetahuan
sistematik yang menerapkan pola pengaturanhubungan antara gejala-gejala yang
diamati. Teori berisi konsep/ uraiantentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu
pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Kritik Sastra
Kritik sastra adalah salah satu
cabang ilmu sastra untuk menghakimi suatu karya sastra. Kritik sastra mencakup
penilaian guna memberi keputusan bermutu tidaknya suatu karya sastra. Kritik
sastra biasanya dihasilkan oleh kritikus sastra. Penting bagi seorang kritikus
sastra untuk memiliki wawasan mengenai ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan
karya sastra, sejarah, biografi, penciptaan karya sastra, latar belakang karya
sastra, dan ilmu lain yang terkait. Kritik sastra memungkinkan suatu karya
dapat dianalisis, diklasifikasi dan akhirnya dinilai. Seorang kritikus sastra
mengurai pemikiran, paham-paham, filsafat, pandangan hidup yang terdapat dalam
suatu karya sastra. Sebuah kritik sastra yang baik harus menyertakan
alasan-alasan dan bukti-bukti baik langsung maupun tidak langsung dalam penilaiannya.
Sejarah Sastra
Sejarah sastra adalah ilmu yang
memperlihatkan perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu. Sejarah sastra
bagian dari ilmu sastra yaitu ilmu yang mempelajari tentang sastra dengan
berbagai permasalahannya. Di dalamnya tercakup teori sastra, sejarah sastra dan
kritik sastra, dimana ketiga hal tersebut saling berkaitan. Sejarah Sastra merupakan salah satu dari tiga
cabang ilmu sastra, di samping Teori Sastra dan Kritik Sastra (Wellek &
Warren, 1990). Sejarah sastra mempelajari perkembangan sastra yang dihasilkan
oleh suatu masyarakat atau bangsa. Dalam konteks Indonesia, maka Sejarah Sastra
akan mempelajari perkembangan sastra nasional (Indonesia).
Kritik
Sastra dan Sejarah Sastra
Kritik sastra dan sejarah sastra memiliki
hubungan yang erat, maka tidak ada kritik sastra tanpa sejarah sastra. Akan
tetapi, keduanya memiliki wilayahnya sendiri dalam dunia sastra dan memiliki
perbedaan. Sejarah sastra akan menjelaskan "A" berasal dari
"B", sementara kritik sastra menilai "A" lebih baik dari
"B". Sejarah sastra berdasarkan pembuktian data-data historis,
sementara kritik sastra berdasarkan pada pendapat dan keyakinan seorang
kritikus sastra. Kaitan yang pasti antara sejarah sastra dan kritik sastra
adalah kritik sastra yang baik akan menganalisa suatu karya sastra dengan
melibatkan pemikiran dan sikap orang-orang dalam suatu zaman lahirnya sebuah
karya sastra. Hal ini penting karena setiap peiode sastra memiliki konsep dan
pemikiran yang berbeda-beda.Sejarah sastra berperan menghasilkan kritik sastra yang melampaui penilaian
atas dasar suka atau tidak suka. Kritikus sastra yang sadar akan sejarah sastra
mempunyai kemampuan untuk membedakan asli atau tidaknya sebuah karya sastra
yang sedang dihadapi.
Ketiga
bagian antara teori, sejarah dan kritik sastra di atas salingberkaitan dan
ketergantungan antara satu dengan yang lainnya, seperti dibawah ini :
1. Hubungan
Sejarah Sastra dengan Teori Sastra
Sejarah
sastra banyak memerlukan bahan-bahan pengetahuan tentang
teori sastra. Misalnya, pembicaraan tentang suatu angkatan tidak
akan terlepas dari gaya bahasa, aliran, genre sastra, latar belakang cerita,
tema,dan sebagainya.Sebaliknya, teori sastra pun memerlukan bahan-bahan dari
hasil penyelidikan sejarah sastra. Pembicaraan tentang gaya bahasa atau tentang suatu
aliran tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sastra secara keseluruhan.
Suatu pengertian dalam teori sastra kemungkinan mengalami perubahan dan
perkembangan. Misalnya, pengertian puisi, cerpen, novel dan lain-lain mengalami
perkembangan karena data-data tentang genre sastra tersebut memang
berkembang.
2. Hubungan
Sejarah Sastra dengan Kritik Sastra
Sejarah sastra
memerlukan bantuan juga dari kritik sastra. Tidak semua karya sastra yang
pernah terbit diadakan bahan penelitian sejarah sastra,tapi terbatas pada sejumlah
karya sastra tertentu. Untuk memilih dan menentukan karya sastra yang menjadi
objek penyelidikan sejarah sastra itu diperlukan bahan-bahan dari kritik sastra,
sebab tugas kritik sastralah untuk menentukan nilai suatu karya
sastra.Sebaliknya, kritik sastra pun membutuhkan bahan-bahan dari sejarah
sastra,terutama di dalam usaha menentukan asli tidaknya suatu karya sastra atau
ada tidaknya pengaruh dari sastra lain.
3. Hubungan
Kritik Sastra dengan Teori Sastra
Hubungan
kritik sastra dan teori sastra sangat berkitan. Usaha kritik sastra tidak akan
berhasil tanpa dilandasi oleh dasar-dasar pengetahuan tentang teori sastra. jika
kita hendak mengadakan suatu telah kritik terhadap suatu cerita novel, terlebih
dahulu kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang disebut novel, tentang
unsur-unsur suatu novel, misalnya tema, plot,gaya bahasa, perwatakan, setting,
sudut pandang cerita, dan sebagainya. Demikian juga jika kita hendak mengadakan
suatu analisis terhadap suatu kritik terhadap suatu puisi. Teori sastra merupakan sebagian modal bagi pelaksanaan kritik
sastra.Sebaliknya, teori sastra pun memerlukan bahan-bahan dari kritik
sastra,bahkan sebenarnya kritik sastra merupakan pangkal dari teori sastra. Teori
tanpa data merupakan teori yang kosong. Seperti halnya dijelaskan di atas, Kita
tak dapat menyusun teori sastra tanpa kritik dan sejarah sastra, sejarah sastra
tanpa kritik dan teori sastra dan kritik sastra tanpa teori dan sejarah. Kritik
sastra tidak akan mencapai sasaran apabila teori dan sejarah sastra tidak di jadikan
landasan berpihak. Demikian dengan teori dan sejarah sastra, karena teori
sastra tidak akan pernah sempurna tanpa bantuan sejarah dan kritik sastra sepanjang
aman. Hal yang sama tidak dapat dipaparkan apabila teori dan kritik sastra
tidak jelas.
Sumber :
Wellek, Rene dan Austin Warrren. 1990.
Teori Kesusastraan. Diterjemahkan dari Theory of Literature oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Rabu, 03 Mei 2017
Sintaksis
Berita
BERAU POST Selasa,
14 Februari 2017
Masih Maraknya Judi Sabung Ayam di
Talisayan
Talisayan – Judi
Sabun ayam nampaknya sudah seperti budaya bagi masyarakat wilayah pesisir
selatan Berau, termasuk di Kecamatan Talisayan. Meski sering ditertibkan, judi
yang identik pertarungan ayam ini terus saja berkembang. Tak heran hal ini pun,
membuat geram Kapolsek Talisayan Iptu Faisal Hamid.
Polisi berpangkat
dua balok ini,mengaku sering mendapatkan laporan ini masyarakat yang merasa
resah dengan aktivitas judi sabung ayam di wilayahnya. Terutama di daerah
ekstransmigrasi yang jauh dari jangkauan aparat kepolisian.
“Saya cukup
prihatin dengan masih maraknya judi sabung ayam ini, seolah sudah mendarah
daging buat mereka. Meski sering di tertibkan, masih saja mereka berjudi di
tempat lain.” Beber Faisal kepada media ini, Kemarin (13/2).
Beberapa waktu
lalu, lanjut Faisal, pihaknya sempat melakukan operasi dan berhasil menjaring
puluhan pelaku judi sabung ayam. Namun, hal itu tidak memberikan efek jera. Menurut
infomasi yang berhasil di terimanya, judi sabung ayam ini biasanya dilakukan di
dekat perkampungan.
“Hanya saja, setiap
kami adakan operasi penertiban, selalu bocor duluan. Kadang, ketika kami sudah
sampai di lokasi, para pemain judi sudah bubar. Itu juga jadi salah satu
kendala kami melakukan penertiban”, ungkapnya.
Faisal mengaku
dari informasi yang di dapat, pihaknya sudah mengantongi identitas beberapa
pemain judi sabung ayam. Namun belum cukup bukti, untuk melakukan penangkapan.
Untuk membawa ke rana hokum, kata Dia, setidaknya ada dua alat bukti.
Ia bahkan menduga
aktivitas judi sabung ayam ini juga melibatkan oknum aparat keamanan. Dugaan
itu tak lepas dari seringnya operasi penertiban, namun selalu gagal menangkap
pelaku.
“Kalau ada aparat
yang terlibat, saya tidak akan pandang bulu. Siapapun dia. Masyarakat atau
aparat keamanan, kita hantam semuanya,” pungkasnya.
1. frase endosentrik : - pihaknya sempat melakukan operasi dan berhasil menjaring puluhan pelaku judi sabung ayam.
- Masyarakat atau aparat keamanan
2. frase nomina : Dua alat bukti.
3. frase ambigu : pandang bulu, mendarah daging
4. frase keterangan : Di wilayahnya
5. frase verba : melakukan penangkapan
Morfologi
Berita
Membangun generasi
penerus bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah. Kekuatan dan tangan
pemerintah sangat terbatas. Keterlibatan komponen dalam masyarakat (keluarga,
tokoh masyrakat, LSM, dan para relawan) secara kompak (terintegrasi
bersinergis) merupakan kekuatan paling optimal dalam melindungi anak-anak. Di
tengah-tengah masyarakatlah anak-anak lebih banyak berada dan masyarakatlah
yang memiliki kesempatan paling banyak untuk secara langsung melindungi mereka.
Oleh karena itu , Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM)
merupakan model perlindungan anak paling komprehensif yang bisa diterapkan dan
diharapkan lebih menjamin keberlanjutannya.
Morfem Terikat
1. Membangun 2. Penerus
3. Terbatas 4. Relawan
5. Terintegrasi 6. Terpadu
7. Berbasis 8. Menjamin
9.
Diharapkan 10. Melindungi
11.
Kekuatan 12. Memiliki
13.
Diterapkan 14. Keterlibatan
15.
Merupakan 16. Perlindungan
17.
Berada 18. Kekuatan
19.
Pemerintah 20. Keberlanjutannya
Morfem Bebas
1. Generasi 2. Bukan
3. Dan 4. Tangan
5. Sangat 6. Komponen
7. Dalam 8. Masyarakat
9. Keluarga 10. Tokoh
11. Para 12. Secara
13. Kompak 14. Paling
15. Paling 16. Optimal
17. Lebih 18. Yang
19. Banyak 20. Untuk
21.Langsung 22. Mereka
23. Oleh 24. Karena
25. Itu 26. Model
27. Bisa 28. Komprehensif
Pemajemukan
1. Tanggungjawab
Reduplikasi
1. Anak-anak
2. Tengah-tengah
3. Semata-mata
Pengertian Morfologi
Bidang linguistik atau tata bahasa yang mempelajari
kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal disebut morfologi. Dalam
beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga tata bentukan.
Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan kata atau yang rnenjadi bagian dari kata disebut morfem.Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, Morfem dibedakan atas dua macam yaitu :
Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan kata atau yang rnenjadi bagian dari kata disebut morfem.Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, Morfem dibedakan atas dua macam yaitu :
- morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga harus selalu hadir dengan mengikatkan dirinya dengan modem bebas lewat proses morfologis, atau proses pembentukan kata, dan
- morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal menduduki satu fungsi dalam kalimat.
Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga
kata dasar. Satuan ujaran seperti buku, kantor, arsip, uji, ajar, kali,
pantau, dan liput rnerupakan modem bebas atau kata dasar; sedang kan me-,
pe-, -an, ke - an, di-, swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem
terikat.
Proses
Morfologis
Proses morfologis
menurut Samsuri (1985:190) adalah cara pembentukan kata-kata dengan
menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Proses morfologis
meliputi (1) afiksasi, (2) reduplikasi dan (3)Pemajemukan.
1. Afiksasi
Afiksasi menurut
Samsuri (1985: 190), adalah penggabungan akar kata atau pokok dengan afiks.
Afiks ada tiga macam, yaitu awalan, sisipan, dan akhiran. Karena letaknya yang
selalu di depan bentuk dasar, sebuah afiks disebut awalan atau prefiks. Afiks
disebut sisipan (infiks) karena letaknya di dalam kata, sedangkan akhiran
(sufiks) terletak di akhir kata.
a. Prefiks
(Awalan)
Prefiks
be(R )
Prefiks be(R) memiliki beberapa variasi.
Be(R)- bisa berubah menjadi be – dan bel -. Be(R)- berubah menjadi be-
jika (a) kata yang dilekatinya diawali dengan huruf r dan (b) suku kata pertama
diakhiri dengan er yang di depannya konsonan.
be(R)- + renang → berenang .
be(R)+ ternak —
beternak
be(R)+ kerja --
bekerja
b. Infiks
(Sisipan)
Infiks termasuk afiks yang penggunaannya
kurang produktif. Infiks dalam bahasa Indonesia terdiri dari tiga macam: -el-, -em-, dan
–er-.
a. infiks - el -,
misalnya, geletar;
b. infiks - er -,
misalnya, gerigi, seruling; dan
c. infiks
-em-, misalnya, gemuruh, gemetar
c. Sufiks
(Akhiran)
Sufiks dalam bahasa
Indonesia mendapatkan serapan asing seperti wan, wati, man. Adapun akhiran yang
asli terdiri dari –an, -kan, dan –i.
a. sufiks – an , misalnya,
dalam ayunan, pegangan, makanan;
b. sufiks – i ,
misalnya, dalam memagari memukuli, meninjui;
c. sufiks - kan, misalnya,
dalam memerikan, melemparkan; dan
d. sufiks - nya, misalnya, dalam
susahnya, berdirinya.
2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah
proses pengulangan kata dasar baik keseluruhan maupun sebagian. Reduplikasi
dalam bahasa Indonesia dapat dibagi sebagai berikut: a. pengulangan seluruh
Dalam bahasa Indonesia perulangan seluruh adalah perulangan bentuk dasar tanpa
perubahan fonem dan tidak dengan proses afiks.
Misalnya: Orang → orang-orang
Cantik → cantik-cantik
3. Pemajemukan
Pemajemukan yaitu
proses morfologis yang berupa perangkaian (bersama-sama) dua buah bentuk dasar
(bentuk asal) atau lebih yang menghasilkan satu kata (Prawirasumantri,
1986:10), Hasil proses pemajemukan disebut kata majemuk, Ramlan (1983:67)
mendefinisikan kata majemuk yakni kata yang terdiri dari dua kata atau lebih
sebagai unsurnya. kata mjemuk, “kata yang terdiri dan dua kata atau lebih”,
maka kata-kata seperti beras-petas, lalu-lalang, simpang-siur.
Contoh : Rumah + Sakit
Tanggung + Jawab
a.Rumah sakit itu
baru dibangun.
b. Kamu harus
tanggungjawab.
Sumber Morfologi:
Alwi,
Hasan 1998 Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan
Kebudayaan
Indonesiads
Chaer, Abdul, 1994 Linguistik Umum ,
Jakarta : Penerbit Rineka Cipta
Kridalaksana, Harimurti 1989 Pembentukan Kata
dalam Bahasa Indonesia Edisi kedua,
Jakarta
: Gramedia.
Senin, 20 Maret 2017
Langganan:
Postingan (Atom)