Rabu, 03 Mei 2017

Morfologi





Berita
Membangun generasi penerus bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah. Kekuatan dan tangan pemerintah sangat terbatas. Keterlibatan komponen dalam masyarakat (keluarga, tokoh masyrakat, LSM, dan para relawan) secara kompak (terintegrasi bersinergis) merupakan kekuatan paling optimal dalam melindungi anak-anak. Di tengah-tengah masyarakatlah anak-anak lebih banyak berada dan masyarakatlah yang memiliki kesempatan paling banyak untuk secara langsung melindungi mereka. Oleh karena itu , Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) merupakan model perlindungan anak paling komprehensif yang bisa diterapkan dan diharapkan lebih menjamin keberlanjutannya. 
Morfem Terikat
1. Membangun          2. Penerus
3. Terbatas                4. Relawan    
5. Terintegrasi           6. Terpadu
7. Berbasis                8. Menjamin           
9. Diharapkan          10. Melindungi
11. Kekuatan            12. Memiliki
13. Diterapkan         14. Keterlibatan
15. Merupakan         16. Perlindungan 
17. Berada                18. Kekuatan
19. Pemerintah         20. Keberlanjutannya

Morfem Bebas
1. Generasi          2. Bukan
3. Dan                  4. Tangan
5. Sangat              6. Komponen
7. Dalam              8. Masyarakat
9. Keluarga         10. Tokoh
11. Para               12. Secara
13. Kompak        14. Paling
15. Paling            16. Optimal         
17. Lebih             18. Yang
19. Banyak          20. Untuk
21.Langsung       22. Mereka
23. Oleh              24. Karena
25. Itu                 26. Model
27. Bisa              28. Komprehensif

Pemajemukan
1. Tanggungjawab      

 Reduplikasi
1. Anak-anak
2. Tengah-tengah
3. Semata-mata



Pengertian Morfologi
Bidang linguistik atau tata bahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal disebut morfologi. Dalam beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga tata bentukan.
Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan kata atau yang rnenjadi bagian dari kata disebut morfem.Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, Morfem dibedakan atas dua macam yaitu :
  1. morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga harus selalu hadir dengan mengikatkan dirinya dengan modem bebas lewat proses morfologis, atau proses pembentukan kata, dan
  2. morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal menduduki satu fungsi dalam kalimat.
Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga kata dasar. Satuan ujaran seperti buku, kantor, arsip, uji, ajar, kali, pantau, dan liput rnerupakan modem bebas atau kata dasar; sedang kan me-, pe-, -an, ke - an, di-, swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem terikat.

Proses Morfologis
Proses morfologis menurut Samsuri (1985:190) adalah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Proses morfologis meliputi (1) afiksasi, (2) reduplikasi dan (3)Pemajemukan.
1. Afiksasi
Afiksasi menurut Samsuri (1985: 190), adalah penggabungan akar kata atau pokok dengan afiks. Afiks ada tiga macam, yaitu awalan, sisipan, dan akhiran. Karena letaknya yang selalu di depan bentuk dasar, sebuah afiks disebut awalan atau prefiks. Afiks disebut sisipan (infiks) karena letaknya di dalam kata, sedangkan akhiran (sufiks) terletak di akhir kata.
a. Prefiks (Awalan)
    Prefiks be(R )
 Prefiks be(R)  memiliki beberapa variasi. Be(R)-  bisa berubah menjadi be – dan bel -. Be(R)- berubah menjadi be- jika (a) kata yang dilekatinya diawali dengan huruf r dan (b) suku kata pertama diakhiri dengan er yang di depannya konsonan.
be(R)- + renang → berenang .
be(R)+ ternak — beternak
be(R)+ kerja -- bekerja

b. Infiks (Sisipan) 
    Infiks termasuk afiks yang penggunaannya kurang produktif. Infiks dalam bahasa Indonesia    terdiri dari tiga macam: -el-, -em-, dan –er-.
a. infiks - el -, misalnya, geletar;
b. infiks - er -, misalnya, gerigi, seruling; dan
 c. infiks -em-, misalnya, gemuruh, gemetar

c. Sufiks (Akhiran)
Sufiks dalam bahasa Indonesia mendapatkan serapan asing seperti wan, wati, man. Adapun akhiran yang asli terdiri dari –an, -kan, dan –i.
a. sufiks – an ,  misalnya, dalam ayunan, pegangan, makanan;
b. sufiks – i ,  misalnya, dalam memagari memukuli, meninjui;
c. sufiks - kan,  misalnya, dalam memerikan, melemparkan; dan
 d. sufiks - nya,  misalnya, dalam susahnya, berdirinya.

2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses pengulangan kata dasar baik keseluruhan maupun sebagian. Reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat dibagi sebagai berikut: a. pengulangan seluruh Dalam bahasa Indonesia perulangan seluruh adalah perulangan bentuk dasar tanpa perubahan fonem dan tidak dengan proses afiks.
Misalnya: Orang  →  orang-orang
                  Cantik →  cantik-cantik 

3. Pemajemukan
Pemajemukan yaitu proses morfologis yang berupa perangkaian (bersama-sama) dua buah bentuk dasar (bentuk asal) atau lebih yang menghasilkan satu kata (Prawirasumantri, 1986:10), Hasil proses pemajemukan disebut kata majemuk, Ramlan (1983:67) mendefinisikan kata majemuk yakni kata yang terdiri dari dua kata atau lebih sebagai unsurnya. kata mjemuk, “kata yang terdiri dan dua kata atau lebih”, maka kata-kata seperti beras-petas, lalu-lalang, simpang-siur.
Contoh : Rumah + Sakit
                Tanggung  +  Jawab
a.Rumah sakit itu baru dibangun.
b. Kamu harus tanggungjawab.

Sumber Morfologi:

 Alwi, Hasan 1998 Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
       Kebudayaan Indonesiads
Chaer, Abdul, 1994 Linguistik Umum , Jakarta : Penerbit Rineka Cipta
Kridalaksana, Harimurti 1989 Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia Edisi kedua,
       Jakarta : Gramedia.

 

1 komentar: